Nov 30, 2013

Di Balik Frekuensi


Director   : Ucu Agustin
Country   : Indonesia
Year        : 2013
Duration   : 144'
Production  : Gambar Bergerak Production
Rating      : PG
Subtitle    : English
Schedule    :
10 Des 2013 | SOC | 19.00
11 Des 2013 | RS | 13.00






Synopsis :
Bercerita mengenai kisah 'Di balik Frekuensi' publik yang terjadi di Indonesia, film dokumenter ini mengajak publik untuk melihat apa yang kini tengah terjadi di dunia media di negara kita, khususnya berkenaan dengan media yang menggunakan frekuensi publik sebagai sarananya: televisi. Luviana adalah  seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong - Sidoarjo ke Jakarta. Menghabiskan waktu hampir satu bulan demi tekad untuk  mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi. 
---
The story behind the Indonesian television network, as seen through the two subjects, Luviana and Hari Suwandi. Luviana, who had been working for 10 years for Metro TV, was fired because questioning the board management and criticizing the newsroom. Hari Suwandi and Harto Wiyono, both the victim of Lapindo Mud-disaster went to seek justice by walking on feet to Jakarta. Their main goal is to settle the compensation dispute for the victim which hasn’t yet paid by PT Menarak Lapindo Jaya. 

Begini Lho, Ed!


Director    : Lasja F. Susatyo dan Alit Ambara
City          : Jakarta, Yogyakarta
Year         : 2012
Duration   : 41'
Production : Indonesia Berdikari & Cangkir Kopi 
Rating     : PG
Subtitle   : English
Schedule    :
12 Des 2013 | SOC | 16.30
14 Des 2013 | SOC | 13.00
*Director in attendance




Synopsis :
Kisah dan semangat di balik pembangunan Patung Selamat Datang (Bundaran HI), Monumen Pembebasan Irian Barat (Lapangan Banteng), dan Patung Dirgantara (Pancoran).
---
This is the story and enthusiasm behind the making of Selamat Datang Monument (Bundaran HI), West Irian Liberation Monument (Lapangan Banteng), and the Statue of Dirgantara (Pancoran).

Setelah 15 Tahun




Director    : Tino Saroengallo
City          : Jakarta, Yogyakarta, Makassar
Year         : 2013
Duration   : 93'
Production : Jakarta Media Syndication
Rating      : 15+
Subtitle    : English
Schedule   :
11 Des 2013 | SOC | 18.30
13 Des 2013 | RS | 20.00

Synopsis :
Evaluasi perjalanan reformasi, hasil reformasi sampai dengan tahun 2012, dengan cara mewawancarai mantan aktivis 1998, anggota masyarakat dan mahasiswa saat ini. Apakah reformasi gagal? Selain wawancara, film ini juga menampilkan footage terkait pergerakan pada masa Orde Baru yang dulu dilarang tayang di media massa.  Misalnya Peristiwa Gejayan. Kalau film Tragedi Jakarta 1998 (Student Movement in Indonesia) didedikasikan bagi korban Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi I maka film Setelah 15 Tahun... didedikasikan untuk Moses Gatotkaca (korban Peristiwa Gejayan) dan Yun Hap (korban Tragedi Semanggi II).
---
Evaluation of how Reformation goes until 2012 by interviewing 1998 activists, common people and students. Did Reformation failed? Besides interviews, the film also shows some footage that was forbidden during New Regime era i.e. Gejayan Incident in Jogjakarta. If the film Tragedi Jakarta 1998 (Student Movement in Indonesia) was dedicated to victims of Trisakti dan Semanggi I Tragedy, Setelah 15 Tahun... is dedicated to Moses Gatotkaca (victim of Gejayan Incident) and Yun Hap (victim of Semanggi II Tragedy).

Children of a Nation



Director    : Sakti Parantean
City          : Jakarta
Year         : 2013
Duration   : 77'
Production:  Fictionary Films
Rating      : PG
Subtitle    : English
Schedule :
12 Des 2013 | SOC | 18.30
13 Des 2013 | RS | 13.00
*Director in attendance

Synopsis :
Sebuah negara menjadi pusat perhatian demokrasi dunia pada tahun 2009. Indonesia, negara yang baru menapakkan kakinya dalam kehidupan ber-demokrasi mendapatkan sebutan sebagai salah satu negara terbaik yang dapat menyelenggarakan pemilihan umum secara demokratis.  Demam demokrasi dan "pilpres" terekam dalam setiap nafas bangsa ini. Kondisi ini juga semakin dihangatkan dengan pemberitaan media dan kampanye politik yang semakin agresif. Baru saja 10 tahun lalu, dunia menyaksikan kejatuhan Suharto yang dipicu oleh gerakan reformasi mahasiswa. Sekarang, bangsa ini menjadi saksi mata pertarungan 'orang-orang kuat' untuk memperebutkan tampuk kekuasaan yang juga melibatkan beberapa mantan Jendral dengan jejak rekam khusus dalam hal pelanggaran Hak Asasi Manusia. Persis seperti seorang anak kecil, bangsa ini belajar untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
---
Presidential election in the Republic of Indonesia takes place in 2009. A country that is still learning how to apply a democratic life, yet declared as one of the countries that have the best democratic election processes. Euphoria takes place as people are being fed by political campaigns and media's involvement in politics. Indonesians who were just liberated around 10 years ago from the Suharto's tyranny by the student movements in 1998, have to witness a political battle among the haves and the powers which involve some of the army generals who should have been accountable for some human right abuses. Like a little child, the country is struggling to shape its future. Like little children, the people are learning to shape its future.

Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)


Director  : Hafiz Rancajale
City         : Jakarta
Year : 2012
Duration  : 160'
Production : Forum Lenteng
Subtitle    : English
Rating      : PG
Schedule :
13 Des 2013 | SOC | 18.30
14 Des 2013 | RS | 13.00
*Filmmaker in attendance

Synopsis :
Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) mencoba membaca gagasan pengarsipan filem yang ada di dalam pikiran Misbach Yusa Biran sebagai seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfileman Indonesia yang disimpannya di Sinematek Indonesia.
---
This documentary is about an important figure who did great deeds in the history of Indonesian cinema, and also one of the most prominent persons in Indonesian cinema. Hajji Misbach Yusa Biran was a former film director who dedicated most of his lives to preserve materials regarding Indonesian cinema to record history. This film is much about his personal lives as an archivist as it is about him as the founding father of Sinematek Indonesia.
 
Copyright © Forum Film Dokumenter 2013 FFD
Design by FBTemplates | BTT