Dec 7, 2013

Mother

Director   : Vorakorn Ruetaivanichkul
Country   : Thailand
Duration  : 65 min.
Rating     : PG
Schedule :
10 Des 2013 | RS | 20.30 WIB




Synopsis :
Mother adalah gabungan dari fiksi dan dokumenter. Ini adalah potret dari sebuah hubungan yang rumit, rapuh, menyakitkan dan nyata antara ibuku dan aku. Dulu, dia pernah mencoba bunuh diri. Aksinya gagal, namun dia cacat. Setelah insiden itu, keluargaku berubah untuk selamanya, dan film ini adalah usahaku untuk mempelajari dan memahami dia, diriku, dan keluargaku. Dalam konteks yang lebih luas, aku secara analogis menggambarkan bagaimana keluarga kelas menengah Thailand terpengaruh krisis ekonomi pada tahun 1997 (Krisis Tom Yam Kung) dan mempelajari gambaran keluarga dalam budaya Thailand melalui proses pembuatan film ini.  Media Thailand selalu menampilkan keluarga Thailand dengan satu dimensi: yang baik dan yang buruk. Untuk memahami masyarakat, kita perlu fokus pada lembaga terkecil dari itu: keluarga. Apakah keluarga Thailand itu? Apa kerumitan-kerumitannya? Apa cara-cara yang ditempuh setiap anggota keluarga untuk berhubungan dengan dunia luar dan dalam? Bagaimana keluarga tersebut melalui perubahan radikal baik dari masyarakat Thai, takdir, dan bergelut di sekitar kenyataan dan fantasi dari gambaran sebuah keluarga. Mother is a hybrid of fiction and documentary. It is a portrait of the complicated, fragile, painful and realistic relationship between my mother and me. In the past, she once tried to commit suicide. Though the action was failed, she was disabled. Since the incident, my family has changed forever, and the film is my attempt to explore and understand her, myself and my family. To put it in a wider context, I analogically portrayed how Thai middle class family effect- ed by Asian financial crisis in 1997(Tom Yam Kung Crisis) and explored the representation of family in Thai culture through the process of making this film. Thai media always shows Thai family with one dimension : the good and the bad. To understand the society, we need to go to the smallest institution of it : family. What is Thai family? What is its complexities? What are the ways each member deal with the world outside and inside? How does the family go through the radical change both from Thai society and the destiny and they dances around the reality and the fantasy of the familial representation.
---
Highlights :
The 31st Vancouver Film Festival, Canada, 2012
The 56th BFI Lonfon Film Festival, Great Britain, 2012
The 30th Torino International Film Festival, Italy, 2012 (In Competition)
The 1st ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia, Indonesia, 2012

Reality, So?

Director     : Yosep Anggi Noen
Country     : Indonesia
Duration    : 30 min
Production : Limaenam Film
Rating       : PG
Subtitle      : English
Schedule    :
10 Des 2013 | RS | 18.30 WIB


Synopsis    :
Sebuah dokumenter LSM yang membosankan. Film menjadi kacau saat sekelompok kru televisi datang dan bermain-main dengan makna realitas di sebuah desa.
A boring NGO documentary. The film become ruined when some TV crew came and toying around with the reality in a village.

Dec 6, 2013

Dokumenter Hibrida

Dokumenter Hibrida

Selasa 10 Desember 2013 | 18.30 |
Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta

Tantangan dokumenter adalah bagaimana menyajikan realitas. Kebutuhan untuk menyajikan kenyaataan ini membuat dokumenter memiliki kaidah-kaidah tertentu dalam menghadirkan kembali realita. Kritiknya cukup jelas, untuk membuat penciptaan karya tidak berlari terlalu jauh dari kadar kenyataan. Pada titik ini, pembuat film dihadapkan pada etika, sebelum dan setelah produksi.
Minimnya upaya pembuat film dalam mengolah gaya bercerita bisa jadi adalah karena usaha pembuat film yang terjebak pada proses pemenuhan kaidah-kaidah tertentu. Banyak pembuat dokumenter Indonesia terjebak pada kebutuhan untuk memaparkan secara seimbang, mirip dengan metode jurnalistik, namun tidak memberikan wacana kritis tentang apa yang di rekam kamera.
Melalui program “Dokumenter Hibrida” ini, FFD ingin menghadirkan wacana baru dalam eksperimentasi struktur dan metode dokumenter. Dokumenter Hibrida memadukan kaidah dari disiplin yang berbeda. Dokumenter ini berpotensi sebagai pengganggu pakem dokumenter yang sudah mapan sebelumnya. Pertanyaannya kemudian adalah, sejauh mana dokumenter ini berkemampuan untuk merepresantasikan realitas?

Pembicara :
Yosep Anggi Noen (Sutradara Reality So?)
Ismail Basbeth (Sutradara 400 WORDS)
Moderator : 
Franciscus Apriwan (Direktur Festival FFD)

NB: Setelah sesi diskusi ini, akan dilanjutkan dengan pemutaran film Mother karya Vorakorn Ruetaivanichkul

Dokumenter Hibrida

Tuesday, December 10th 2013 | 18.30 |
Ruang Seminar, Taman Budaya Yogyakarta

The challenge in documentary is how to serve reality. The need of serving reality makes documentary has a certain principle in presenting the reality again. The critic is pretty clear; to make the artistic creation would not be too far away from the reality proportion. At this point, the filmmaker is confronted by ethics, before and after production.
The lack of effort from the filmmaker in processing the story telling style perhaps is because the effort from the filmmaker whose trapped in the process of fulfilling certain principles. Many Indonesian documenters are trapped in the need of showing their works in balance, similar to journalistic method, but they are not giving a critical discourse in what the camera has recorded.
Through this “Dokumenter Hibrida” program, FFD wants to present a new discourse in the structural experiment and the documentary method. Dokumenter Hibrida is integrating the principles from different disciplines. This documentary is potentially disrupting the documentary formula which is already established. The next question is; how far this documentary is enabled in presenting the reality?



Speakers :
Yosep Anggi Noen (Director of Reality So?)
Ismail Basbeth (Director of 400 WORDS)
Moderator : 
Franciscus Apriwan (FFD Festival Director)

Note: After this discussion, the session will be continued with the screening of a movie entitled Mother, a film by Vorakorn Ruetaivanichkul.

Perangkap Gender



Sutradara  : Muhammad Mundir
Durasi  : 08:20
Lokasi  : Kuala Lumpur, Malaysia

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  :
Video ini menyoroti pengalaman seorang buruh migran perempuan Indonesia yang perlu bernegosiasi soal kekerasan seksual untuk bisa bertahan hidup di Malaysia. Para wanita sangat rentan terkena kekerasan seksual ketika mereka tak memiliki dokumen kerja. Kondisi ini sering dimanfaatkan oknum kepolisian Malaysia untuk melakukan eksploitasi buruh migran perempuan.
---
Synopsis : This video highlights the experience of a female migrant worker from Indonesia who needs to negotiate about the sexual abuse to survive in Malaysia. Women are very easy to be an object of sexual abuse when they do not have a legal working document. This circumstance is frequently used by the Malaysian police department to exploit those female migrant workers.




Terabai


Sutradara : Karmadi
Durasi  : 04:34
Lokasi  : Kuala Lumpur, Malaysia

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  :
Ini adalah video animasi pada Program Pengesahan Pekerja Asing 6P di Malaysia. Dengan program ini pekerja asing akan dilegalkan atau terancam dideportasi tanpa hukuman. Akan tetapi sesungguhnya program tersebut membawa masalah baru, seperti kisah pekerja dalam video ini.
---
This is an animated video on the legalization of Foreign Worker Program 6P in Malaysia. By this program, the foreign worker will be legalized or deported without penalty. But the program is actually bringing a new problem, like the story of the worker in this video.

(Crosroads) Cupin Cerita, Ayam Pun Dengar


Sutradara : Muhammad Mundir
Durasi : 05:01
Lokasi : Kuala Lumpur, Malaysia

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis :
Ini adalah cerita Cupin, seorang buruh migran asal Indonesia yang bekerja di Malaysia. Ia telah ditipu perkara ijin kerjanya oleh agen tenaga kerja yang mengirimnya ke Malaysia. Kini dia hidup, bekerja dan tidur dalam ketakutan.
---


This is a story of Cupin, a migrant worker from Indonesia who works in Malaysia. She has been conned by the labor agency which sent her to Malaysia about her working permit. Now she has to live, work and sleep in fear.

Papua Calling




Sutradara : FX
Making,Yuliana Langowuyo
Durasi  : 05:24
Lokasi  : Jayapura

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  :
Papua beralih seiring dengan semakin banyaknya pendatang, yang membawa beragam perubahan dalam kehidupan warga lokal. Diantaranya jumlah populasi penduduk beragama Islam yang terus meningkat dan memberi warna dalam keberagaman masyarakat Papua. 
Menjadi minoritas di tanah timur Indonesia,warga muslim di Papua beranggapan bahwa apa yang menjadi permasalahan di Papua adalah isu bersama.Ustadz Fadhal berharap agar tidak melihat permasalahan di Papua hanya milik warga Kristen. Isu yang dihadapi bukanlah persoalan agama melainkan soal kemanusiaan.
---
Ustad Adnan and Fadhal are part of a small minority of West Papuan Muslims. They argue that the problems in Papua don’t just affect the predominantly Christian population. “Don’t view the problems in Papua as Christian problems”, says Fadhal. “This is not a religious problem, this is a humanitarian problem”.

(Papuan Voices) Surat Cinta kepada sang Prada


Sutradara : Wenda Tokomonowir
Durasi  : 06:51
Lokasi  : Bupul,Merauke

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  : 
Tahun 2008 menjadi momen penting bagi Maria Goretti (Eti). Ia bertemu tambatan hatinya, Syamsul seorang prajurit TNI yang bertugas di daerah tempat tinggalnya,di perbatasan RI dan Papua Nugini. Malang tak bisa ditolak,ketika eti tengah berbadan dua,Samsul harus kembali ke kampung halamannya.
Tiga tahun berlalu, hingga sang putri kecil tumbuh besar, Samsul tak ada kabar. Selama tiga tahun pula Eti harus hidup dengan cerca dan pandangan orang sekitar yang memandang sebelah mata padanya dan buah hatinya. Sepucuk surat ia layangkan pada pujaan hatinya, untuk kedua kalinya. Ia berharap kali ini samsul membaca suratnya. “Eti akan terus tunggu Kakak Samsul.Terserah orang mau bilang apa”.
---


A letter from a Papuan woman to an Indonesian soldier who was once based in her village on the Papua New Guinea-Indonesian border. Theirs was a controversial relationship but she begs him to return to meet their three-year-old daughter: “I will continue to wait for you, Samsul. I don’t care what people say”.

Rapat Tersesat



Sutradara : Flux Cup
Durasi : 03:14
Lokasi : Bandung

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis :
Remix suasana rapat PKI dalam film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer.
---
A remix of the meeting’s atmosphere of PKI (Indonesian communist party) from the film “Penghianatan G30S/PKI” by Arifin C. Noer.

Aku Anak Papua



Sutradara : Enrico Aditjondro
Durasi : 06:03
Lokasi : Papua

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  :
Sekelompok ibu dan para pengajar di kota Sorong Papua Barat bersama-sama mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) gratis. TK ini diberi nama Bunga Papua.
---
Synopsis : A group of mothers and teachers in Sorong, East Papua got together establishing a free-charge kindergarten school. This kindergarten was named Bunga Papua.
(Video Slam G 30S Remix).

(Papuan Voices 2) Amos Calling



Sutradara : FX Making
Durasi : 06:46
Lokasi : Papua

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis :
Amos Wainggai bersama 42 orang warga Papua menyeberang dengan perahu dari Merauke, Papua, menuju Australia untuk mencari suaka Politik di tahun 2006. Dia berusaha mencari keadilan di tanah airnya, dia kini (26/8/13) dalam perjalanan ke Papua Barat bersama kapal Freedom Flotilla yang berangkat dari pantai Australia.
Amos Calling
---
Synopsis : Amos Wainggai along with other 42 people from Papua were crossing from Merauke, Papua to Australia by boat to find a political refuge in 2006. He tries to find justice in his own country, now (26/8/13) he is coming home to East Papua with a boat named Freedom Flotilla which sailed from Australia’s coast.

Cerita Datuk Hanafiah


Sutradara : Aji
Durasi : 04:18
Lokasi : Balikpapan (Kalimantan Timur)



10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis :
Seorang pelestari budaya, Datuk Hanafiah, hidup dan beraktivitas secara mandiri di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tak secuilpun dibantu Negara walau berjuta klaim dan janji pengelontoran dana bagi pengembangan budaya di kota minyak ini. Toh, Datuk tetap bersemangat. Baginya keterbatasan bukan rintangan untuk terus menyebarkan kehalusan dan cita rasa peradaban yang luhur.
---
Synopsis : A preserver of culture, Datuk Hanafiah, lives and works independently in Balikpapan, East Borneo. No helps were given by the government even though millions of claims and promises to give funds for developing the culture in this “oil city”. But Datuk keeps working enthusiastically. According to him, this limitation is not an obstacle to keep spreading the fine civilization’s taste.

Penolakan Super Mall



Sutradara : Aldo & Mega
Durasi : 05:01
Lokasi : Balikpapan (Kalimantan Timur)

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis :
Sekelompok pemuda di Balikpapan, Kalimantan Timur berinisiatif menolak pembangunan super mall. Mereka menggelar aksi demo penolakan pembangunan mall tersebut, tapi seakan aksi mereka sia-sia saja. Padahal masyarakat di lingkungan sekitar mall, terganggu, mereka mengeluh limbah mall, dibuang sembarangan sehingga mengganggu aktifitas mereka. Kenyataannya pembangunan mall berlanjut. 
---


Synopsis : A group of young men in Balikpapan, East Borneo initiated a protest against the construction of a super mall. They were protesting against the construction of the mall, but it seemed that their protest was just a waste whereas the community from the neighborhood around the mall felt upset. They complained because the waste of the mall which was dumped carelessly disturbed their activities. But in reality, the construction of the mall continued.

(Bhineka Tinggal Duka) Seragam Yang Tak Melindungi Keberagaman



Sutradara : Rikky 
Durasi : 04:18
Lokasi : Jakarta

10 Desember 2013 | Ruang Seminar | 15.00 – 18.00 WIB

Sinopsis  :
Aksi anti kekerasan menolak FPI bersamaan dengan Hari Kasih Sayang (Valentine Day) di Bundaran Hotel Indonesia pada 14 Februari 2012, berakhir dengan penyerangan FPI terhadap massa aksi. Aksi kekerasan FPI seakan dibiarkan oleh pihak keamanan.
---
Synopsis : The non-violence action against FPI coincided with Valentine’s Day at Bundaran Hotel Indonesia on February 14th 2012, ended up with the attack of FPI towards the action mass. The violence action of FPI seemed to be neglected by the authority.
(MovieMento)

Salma


Kim Longinotto (UK/India) | 91' | 2013
10 Des 2013 | SOC | 13:00


Sutradara pemenang penghargaan internasional, Kim Longinotto, kembali dengan dokumenter terbarunya, SALMA, kisah luar biasa tentang seorang perempuan yang menjadi aktifis legendaris, politikus dan penyair.
---

Internationally-acclaimed, multiple award winning filmmaker Kim Longinotto, returns with her new documentary, SALMA-the extraordinary story of a woman who becomes the legendary activist, politician, poet, Salma.

Highlights :
2013 Berlin International Film Festival
2013 Sundance Film Festival

Dec 1, 2013

Persia Untold Stories

  10 Desember 2013 | RS | 13.00 WIB
Persian Untold Stories merupakan sebuah proyek independen yang dimulai pada bulan Mei 2013. Dengan semangat untuk mengeksplorasi lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari di Iran, yang mungkin sangat asing bagi masyarakat di luar Iran. Untuk hidup di dunia yang lebih baik, kita harus memiliki pandangan yang lebih baik atas diri kita dan orang lain. Kami ingin berbagi cerita-cerita kami, sebagai orang Iran yang telah tinggal dan berkembang diIran, dan berpergian menggunakan pasport Iran. Kami ingin berjumpa dengan orang yang memiliki semangat yang sama dengan kami, ber teman dan belajar mengenai berbagai macam budaya, seperti yang kami lakukan dengan cerita kami hidup di Iran.

Program ini tidak berhubungan dengan partai politik apapun dan tidak mencari keuntungan.

Program ini diinisiasi oleh Komeil Soheili, pelajar dan pembuat film dokumenter dari Iran. Lulus dari program master dalam bidang Ilmu Budaya dan Media, Universitas Tehran pada tahun 2010. Sejak itu terlibat dalam pembuatan beberapa film dokumenter sebagai sutradara, asisten sutradara, peneliti, dan penulis plot. Pada bulan Mei 2013, meninggalkan Iran untuk keliling dunia dan menjalankan program ini.

Persian Untold Stories is an independent project which began in May 2013. The aim is to explore aspects of every day social life in Iran which may be unfamiliar to non-Iranian people. To live in a friendlier world, first we need to have a brighter idea about each other. We want to share our own stories, as an Iranian who live and grow up in Iran, and traveling with Iranian passport. We would like to talk face to face with people who are interested in our goal, to find new friends and to learn about different cultures as we are sharing our own stories of Iran, as we live in.

This project is non-profit and is not affiliated with any political parties.

This project was founded by Komeil Soheili, an Iranian scholar and documentary filmmaker. He graduated in MA in Cultural Studies and Media from University of Tehran in 2010. Since then he worked in several documentaries as a director, assistant director, researcher and plot writer. In May 2013 he left Iran for a travel around the world, where he has started his non-profit project “Persia Untold Stories.

Lebih dekat ke Horizon: Cerita dari Orang-orang Biasa

Di Hari Hak Azasi Manusia ini, kami berupaya mengembalikan kuasa kepada orang kebanyakan. Melalui video karya orang-orang biasa dari berbagai latar belakang, yang menghadapi realita keseharian hidup, kami mempersembahkan suara-suara dari mereka yang selama ini tidak terdengar. Dalam Crossroads, pekerja-pekerja migran dari berbagai latar belakang dan kebangsaan berkumpul bersama menyampaikan cerita-cerita mereka menggunakan metafora-metafora dan simbol-simbol yang umum dan sederhana. Dalam Moviemento, anak-anak muda menggunakan video sebagai alat mempromosikan akuntabilitas. Sedangkan Papuan Voices, mempersembahkan video-video yang membuat kita menengok hambatan-hambatan sosial dan ekonomi yang menggelayuti pulau indah ini dan membuat kita melihat lebih dalam dari sekedar kekayaan mineral yang dikandungnya.

Pemutaran & Diskusi
10 Desember 2013 | Ruang Seminar |
15.00 – 18.00 WIB

Sutradara : Rikky 

Sutradara : Aldo & Mega

Sutradara : Aji

Sutradara : FX Making

Sutradara : Enrico Aditjondro

Sutradara : Flux Cup

Sutradara : Wenda Tokomonowir

Sutradara : FX Making,Yuliana Langowuyo

Sutradara : Muhammad Mundir

Sutradara : Karmadi

Sutradara : Muhammad Mundir


EngageMedia
EngageMedia menggunakan teknologi video, internet dan 'free and open source software' untuk merangsang perubahan sosial dan lingkungan. Kami percaya bahwa media independen dan teknologi gratis yang terbuka adalah dasar kuat untuk membangun pergerakan demi melawan ketidakadilan sosial, sekaligus menyediakan solusi serta pemikiran lebih jauh terhadap isu-isu tersebut.
This Human Rights Day, we are giving power back to the people. Through videos made by people on the ground who live the day to day reality in different circumstances, we present to you the voices of the unheard. In Crossroads, migrants workers from many background and nationalities gathered together to tell their stories using common metaphors and symbols. In Moviemento young people used video as a tool to connect with leaders in their community to promote accountability. In Papuan Voices, the videos presented will provide a peek into the social and economic obstacles enveloping this beautiful island, pieces that make you see more than the minerals in the island.





Screening & Discussion
December, 10th 2013 | Ruang Seminar |
15.00 – 18.00 WIB

Director : Rikky 

Director : Aldo & Mega

Director : Aji

Director : FX Making

Director : Enrico Aditjondro

Director : Flux Cup

Director : Wenda Tokomonowir

Director : FX Making,Yuliana Langowuyo

Director : Muhammad Mundir

Director : Karmadi

Director : Muhammad Mundir


EngageMedia is a non-profit media, technology and culture organization. We use the power of video, the internet and free software technologies to create social and environmental change. We believe independent media and free and open technologies are fundamental to building the movements needed to challenge social injustice and environmental damage, as well as to provide and present solutions.

Nov 30, 2013

Secarik Kisah Panyatan


Director    : Rizqi Pangestu
City          : Purbalingga
Year         : 2013
Duration   : 8'
Production : Pak Dirman Film
Rating       : PG
Schedule    :
10 Des 2013 | SOC | 15.30
11 Des 2013 | AMP | 18.30

Synopsis :
Grumbul Panyatan, Desa Gunungwuled, Kecamatan Rembang menjadi salah satu daerah di Kabupaten Purbalingga yang hampir terisolasi. Akses jalan, listrik, air bersih, kesehatan, dan pendidikan merupakan persoalan menahun yang dialami sekitar 40 kepala keluarga. Banyak anak-anak yang cita-citanya kandas saat dewasa karena pola pikir bahwa sekolah cukup sampai program yang dianjurkan Pemerintah.
---
Grumbul Panyatan, Gunungwuled Village, District Apex being one of the areas in which virtually isolated Purbalingga. Access roads, electricity, clean water, health, and education are a chronic problem that affects about 40 heads of families. Many children whose ideals run aground as adults because of the mindset that schools are encouraged enough to program the Government.

Rumah Industri Rully



Director    : Lia Budi Cahyani
City          : Kebumen
Year         : 2013
Duration   : 9'
Production : Belum Bikin Production
                   (BeBiPro) & Sangkanparan
Rating      : PG
Schedule    :
10 Des 2013 | SOC | 15.30
11 Des 2013 | AMP | 18.30
*Director in attendance

Synopsis :
Sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang usaha rumahan yang menjadi lapangan pekerjaan masyarakat desa.
---
This is a documentary about a home scale-industry which provides jobs for the people around it.



Usman Janatin


Director  : Doni Saputra
City        : Purbalingga
Year       : 2013 
Duration  : 15' 
Production : Smega Movie 
Rating     : PG 
Schedule  :
10 Des 2013 | SOC | 15.30
11 Des 2013 | AMP | 18.30

Synopsis :
Sosok dan nama pahlawan nasional Usman Janatin kelahiran Purbalingga yang diabadikan menjadi tempat untuk kepentingan umum seperti TK, museum, dan taman kota. Namun, nama itu disalahgunakan oleh pengelola taman kota.
---
Figure and national hero name Usman Janatin birth Purbalingga enshrined into place for the public interest such as kindergartens, museums, and city parks. However, the name was misused by park managers.

 
Copyright © Forum Film Dokumenter 2013 FFD
Design by FBTemplates | BTT